ADVERTISEMENT
  • Redaksi
  • Pedoman Media Siber
  • Privacy Policy
Jumat, 6 November 2026, 02:23 WIB
Walan
  • Home
  • Pemerintah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Peristiwa
  • Advetorial
No Result
View All Result
Walan
  • Home
  • Pemerintah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Peristiwa
  • Advetorial
No Result
View All Result
Walan
No Result
View All Result
  • Home
  • Pemerintah
  • Nasional
  • Teknologi
  • Ekonomi dan Bisnis
  • Politik
  • Pendidikan
  • Olahraga
  • Wisata
  • Daerah
  • Lifestyle
  • Peristiwa
  • Advetorial

Situs Petapan Peninggalan Purbakala dan Sejarah Banten

Walan. Id by Walan. Id
in Daerah, Pendidikan, Wisata
0

Walan.id – Peninggalan Purbakala dan Sejarah Banten yang berlokasi di Kampung Patapan Pasir, Desa Nagara, Kecamatan Kibin, Kabupaten Serang terdapat sebuah tinggalan berupa bangunan yang sebagian besar masih terpendam dalam tanah.

Tinggalan ini dikenal dengan nama situs Patapan. dilansir Walan.id dari buku database cagar budaya Kabupaten Serang yang diterbitkan oleh balai pelestarian cagar budaya banten, Situs ini diperkirakan merupakan temuan pasca kemerdekaan, karena dalam buku inventaris kepurbakalaan yang disusun N.J. Krom tahun 1914, di wilayah Kabupaten Serang tidak ada situs bernama Patapan.

Pada tahun 1991/1992 dan 1992/1993 Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Serang melakukan upaya perlindungan dengan cara pemagaran situs Patapan. Baru pada tahun 1996, Balai Arkeologi Bandung melakukan peninjauan dan pemotretan yang ditindaklanjuti dengan penelitian pada tahun 1997-1998. Pada tahun 2003 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang melakukan studi teknis di situs ini.

Pada awalnya situs Patapan diduga sebagai tinggalan tradisi megalitik, karena dari bentuk bangunannya menyerupai punden berundak yang lazim dijumpai pada bangunan peninggalan tradisi megalitik. Bangunan di situs ini diduga pula digunakan pada masa-masa berikutnya atau setelah ditinggalkan masyarakat pendukung tradisi megalitik. Ketika pengaruh kebudayaan Hindu datang, bangunan di situs Patapan digunakan sebagai bangunan sakral, dan ketika kebudayaan Islam datang kemudian, bangunan ini dipergunakan sebagai tempat pengasingan diri (tirakat) (Djaenuderadjat, 2001: 33-35). Hal semacam ini seringkali terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Cerita Rakyat Sejarah Banten

Perhatikan cerita rakyat setempat. Dalam Cerita rakyat diceritakan bahwa situs Patapan dibuat pada masa pemerintahan Kesultanan Banten. Pada saat itu digunakan sebagai tempat bertapa, sesuai dengan namanya “patapan/pertapaan” yang berasal dari kata tapa atau semedi. Diceritakan pula bahwa dahulu pernah digunakan sebagai tempat berkumpulnya para ulama dan santri yang bertugas mensyiarkan ajaran Islam di wilayah Banten.

Cerita rakyat yang lainnya menyebutkan Prabu Pucuk Umun penguasa Banten Girang dan para pengikutnya sedang membuat meja dan kursi untuk bermusyawarah, Sultan Banten mengetahui hal tersebut dan berniat menangkapnya. Pucuk Umun dan pengikutnya kemudian melarikan diri dan melompat ke rawa Ciateul untuk menghindar dari kejaran Sultan Banten. Pucuk Umun kemudian menghilang. Rawa Ciateul tempat melompat dan menghilangnya Pucuk Umun kini disebut Kampung Bunian.

Peninggalan Purbakala Seperti Bangunan Candi Hindu

Namun, berdasarkan dari hasil penelitian Balai Arkeologi Bandung (1996 dan 1997-1998) serta hasil studi teknis Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Serang (2003), secara arsitektural dan teknologi, situs Patapan diperkirakan sebuah bangunan candi. Bangunan situs Patapan membentuk sebuah batur bujursangkar yang berukuran 10 x 10 m (Balai Arkeologi Bandung menyebut ukuran 15 x 15 m). Batur ini terbuat dari susunan satu lapis batu pasir berwarna putih di bagian luar, sedangkan di bagian dalamnya terdiri dari pengerasan tanah bercampur tatal-tatal batu pasir. Di tengah batur terdapat altar pemujaan .

Bangunan di Situs Patapan dapat dibandingkan dengan peninggalan masa Hindu abad ke-8 seperti candi Sambisari di Kabupaten Sleman dan Candi Tengaran di Kabupaten Ungaran, Jawa Tengah. Pada saat ditemukan kedua candi tersebut berbentuk sebuah batur yang di tengahnya terdapat candi kecil dan di tepi batur terdapat umpak-umpak tiang. Adanya umpak-umpak pada kedua candi tersebut ditafsirkan bahwa candi kecil dibangun setelah batur didirikan. Kemudian memakai atap dan tiang kayu. Dinding batur bukan bareh atau miring melainkan berundak. Hubungan antara undak satu dengan undak yang lainnya diikat dengan takikan mendatar pada sudut masing-masing batu. Melalui pengupasan yang dilakukan Balai Arkeologi Bandung (1997-1998), diketahui konstruksi dinding utara bangunan berupa susunan batu tanpa perekat (lepa) dengan pengikat menggunakan teknik batu kunci atau teknik yang lazim yang dipakai pada konstruksi bangunan candi. Dari perbandingan tersebut diperoleh gambaran bentuk bangunan Patapan (Fallah, 1998).

Di bagian atas bangunan terdapat lantai terbuat dari bahan yang sama. Pada lantai terdapat 10 buah umpak berbentuk bulat dengan ukuran garis tengah bervariasi antara 50-68 cm. Umpak semacam ini biasanya berada di tepi bangunan, dan diperkirakan berfungsi sebagai penyangga tiang kayu yang cukup besar.

Pada bagian tengah bangunan situs Patapan terdapat tinggalan batu yang ditafsir sebagai altar berbentuk persegi dan berprofil yoni. Kini altar tersebut berada di bawah pohon dalam kondisi terbalik, tidak jauh dari titik pusat bangunan. Dilihat dari bentuknya, altar situs Patapan mirip yoni, namun tidak memiliki lubang tempat lingga dan cerat seperti halnya yoni. Namun fungsinya diduga tidak jauh dari aktivitas ritual Agama Hindu. Bila melihat bagian atasnya yang datar, kemungkinan pernah digunakan untuk meletakkan sesuatu yang berhubungan dengan upacara keagamaan, sebagaimana altar yang biasa dipakai dalam upacara Agama Hindu.

Berdasarkan analogi bentuk bangunan maupun profil yoni pada altar, untuk sementara dapat dikatakan bahwa bangunan di situs Patapan merupakan sebuah candi Hindu, sedangkan untuk menentukan kapan candi ini digunakan belum dapat dipastikan karena belum ada data arkeologi dan data sejarah yang jelas. Namun, daerah Cikande yang tidak jauh dari situs Patapan pernah disebut dalam catatan Tom Pires ketika mengunjungai Banten pada tahun 1513. Disebutkan bahwa Cheguide (Cikande?) merupakan sebuah kota dagang pada masa Hindu di bawah kekuasaan Kerajaan Pajajaran dan dikatakan juga bahwa barang dagangannya sama dengan Banten dan Pondang (Pontang?) (Fallah, 1998). Secara geografis dan administratif dahulu situs Patapan di Desa Nagara masuk wilayah Kecamatan Cikande, namun karena adanya pemekaran wilayah tahun 2001 maka saat ini lokasi situs berada di wilayah ujung selatan Kecamatan Kibin.

Editor: Nurlan 

Sumber : BPCB Banten

Post Views: 1,597
Tags: Cagar Budaya BantenCerita RakyatKibin Kabupeten SerangPeninggalan MegalitikumPeninggalan PurbakalaSejarah BantenSitus Petapan Nagara
ADVERTISEMENT
Previous Post

Bupati Serang Ratu Zakiyah Terima Penghargaan Pimred Award 2025

Next Post

Peluncuran 80 Ribu KDMP, Desa Ranjeng Kabupaten Serang Jadi Percontohan Nasional

Related Posts

Tembok SDN Pabuaran Ambruk, Warga Kompak Gotong Royong Bersihkan Puing

Tembok pagar SDN Pabuaran, Kecamatan Pamarayan, Ambruk setelah diguyur hujan semalaman. Dok. (Ist)

Tembok pagar SDN Pabuaran, Kecamatan Pamarayan, Ambruk setelah diguyur hujan semalaman. Dok. (Ist)

by Walan. Id
31 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare

Honda Banten Kolaborasi dengan Kepolisian, Edukasi Pengendara di Area Rawan Kecelakaan

Honda Banten berkolaborasi dengan pihak Kepolisian untuk mengedukasi pengendara di area rawan kecelakaan. Dok (ist)

Honda Banten berkolaborasi dengan pihak Kepolisian untuk mengedukasi pengendara di area rawan kecelakaan. Dok (ist)

by Walan. Id
30 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare

Gelar Pengukuhan Pengurus Pastirta Sekaligus Reuni Lintas Angkatan SMA Tirtayasa

Para Alumni SMA Tirtayasa foto bersama usai pengukuhan ketua Pastirta yang digelar di gedung Kwarda Pramuka Banten, Kota Serang. Dok (Nurlan)

Para Alumni SMA Tirtayasa foto bersama usai pengukuhan ketua Pastirta yang digelar di gedung Kwarda Pramuka Banten, Kota Serang. Dok (Nurlan)

by Walan. Id
24 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare

YBM PLN Salurkan Santunan untuk 70 Anak Yatim dan Dhuafa di Cigeulis Pandeglang

Jajaran manajemen PLN UID Banten bersama pengurus YBM PLN, dan masyarakat berfoto bersama usai penyaluran santunan kepada 70 anak yatim dan dhuafa di Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Dok. (Ist)

Jajaran manajemen PLN UID Banten bersama pengurus YBM PLN, dan masyarakat berfoto bersama usai penyaluran santunan kepada 70 anak yatim dan dhuafa di Kecamatan Cigeulis, Kabupaten Pandeglang, Dok. (Ist)

by Walan. Id
22 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare

Sempat Vakum Tujuh Tahun, Bedolan Pamarayan Akhirnya Resmi Dibuka Bupati Serang

Warga Antusias Sambut Bedolan di Bendungan Pamarayan, Kabupaten Serang, Sabtu, (17/10/2026).

Warga Antusias Sambut Bedolan di Bendungan Pamarayan, Kabupaten Serang, Sabtu, (17/10/2026).

by Walan. Id
17 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare

Bupati Serang Sebut Sangga Nagara Festival Bukti menjaga Hubungan Baik dengan Alam

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah secara resmi membuka Sangga Nagara Festival 3 di Lapangan Rancanini, Kecamatan Padarincang pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dok. (Ist)

Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah secara resmi membuka Sangga Nagara Festival 3 di Lapangan Rancanini, Kecamatan Padarincang pada Kamis, 15 Oktober 2026. Dok. (Ist)

by Walan. Id
16 Oktober 2026
0
0
ShareTweetShare
Next Post

Peluncuran 80 Ribu KDMP, Desa Ranjeng Kabupaten Serang Jadi Percontohan Nasional

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Rekomendasi

Jadi Korban Bullying, Siswa SD di Kabupaten Serang Dipukuli Temanya hingga Harus Operasi Usus Buntu

2 tahun ago
0

Airin-Ade Beri Pesan Kepada Relawan dan Simpatisan yang telah Mendukung Selama Proses Pilkada

2 tahun ago
0

Berita Terpopuler

    Suasana saat petugas PLN melayani pelanggan dalam proses pembayaran listrik di Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP). Dok. (Ist)

    Perkuat Ekonomi Desa, PLN dan Wamendagri Dorong Transaksi Listrik Lewat KDKMP

    by Walan. Id
    5 November 2026
    0
    0

    Walan.id – Wakil Menteri Dalam Negeri, Bima Arya Sugiarto bersama PT PLN (Persero) meninjau empat Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP)...

    Kepala Bidang Latihan dan Produktivitas Disnakertrans Kabupaten Serang, Muhammad Furqon, saat ditemui di kantornya. Kamis, (5/11/2026). Dok. (Nurlan)

    Disnakertrans Buka Pelatihan Satpam Gada Pratama Batch 2, 150 Peserta Jalani Tes Wawancara

    by Walan. Id
    5 November 2026
    0
    0

    Walan.id — Gelombang kedua pelatihan pembentukan SDM Satuan Pengamanan (Satpam) Gada Pratama Batch 2 di Kabupaten Serang kini memasuki tahap...

    Telkomsel Hadirkan THRIVE di Universitas Indonesia, Bekali Mahasiswa Hadapi Dunia Kerja di Era AI

    by Walan. Id
    5 November 2026
    0
    0

    Walan.id – Telkomsel kembali menghadirkan program THRIVE yang sejalan dengan komitmen “Melayani Sepenuh Hati” sebagai wadah talenta muda Indonesia untuk...

    Petugas PLN saat melakukan pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) berkapasitas total 50 megawatt (MW) di Sidera, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah. Penambahan pembangkit ini menjadi langkah antisipatif PLN untuk menjaga keandalan pasokan listrik Sulawesi di tengah kemarau berkepanjangan yang menyebabkan penurunan debit air dan berdampak pada produksi sejumlah Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA). Dok (ist)

    Jaga Keandalan Listrik Sulawesi, PLN Tambah Pembangkit 50 MW di Sigi Sulteng

    by Walan. Id
    5 November 2026
    0
    0

    Walan.id - PT PLN (Persero) terus memperkuat keandalan sistem kelistrikan Sulawesi dengan menambah pasokan listrik sebesar 50 megawatt (MW) melalui...

    Walan.id
    adalah situs Portal Media Online yang bertujuan menyajikan konten berita terkini dan informatif.
    089528994714
    redaksiwalanid@gmail.com
    Facebook Twitter Youtube

    Category

    • Pemerintah
    • Nasional
    • Teknologi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Politik
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Wisata
    • Daerah
    • Lifestyle
    • Peristiwa
    • Advetorial

    © 2024 Walan.id

    • Redaksi
    • Pedoman Media Siber
    • Privacy Policy
    No Result
    View All Result
    • Home
    • Pemerintah
    • Nasional
    • Teknologi
    • Ekonomi dan Bisnis
    • Politik
    • Pendidikan
    • Olahraga
    • Wisata
    • Daerah
    • Lifestyle
    • Peristiwa
    • Advetorial

    © 2024 Walan.id