Walan.id – Pengukuhan Pengurus Persatuan Alumni SMA Tirtayasa (Pastirta) digelar di Gedung Kwarda Pramuka Banten Kota Serang, Sabtu, 24 Oktober 2026.
Diketahui, SMA Tirtayasa yang terletak di dekat Terminal Pakupatan, Kota Serang merupakan sekolah swasta yang telah lama berdiri dan saat ini sudah tidak ada sekolahnya, dengan rekam jejak alumni yang aktif sehingga mengadakan reuni lintas angkatan seperti angkatan 1989–2006.
Ketua Umum Pastirta, M Ali Suro mengatakan, bahwa hal ini untuk mengenang kembali SMA Tirtayasa sehingga secara resmi dibentuk Organisasi Pastirta dan dikukuhkan.
“Anggota dan pengurusnya itu dari Alumni angkatan 1989 sampai 2006, jadi para Alumni ini sangat kompak.” ungkapnya keada walan.id, Sabtu, 24 Oktober 2006.
Ia menyampaikan, hal itu terbentuk dari Inisiatif para teman teman alumni lintas angkatan untuk membentuk satu wadah guna menghimpun atau menampung satu alumni sehingga menjadi keluarga besar.
“Kalau sekolah sudah tidak ada, Nah mudah mudahan dengan adanya wadah ini teman teman alumni bisa meneruskan dan membuat sekolah SMA Tirtayasa jilid dua.”ujarnya.
Ia berharap, Sekolah SMA Tirtayasa ada kembali dan menurutnya, Sekolah tersebut telah menjadi wadah pendidikan terbesar khususnya di Serang.
“Itu harapan kita semua agar SMA ini ada kembali karena bagaimanapun juga SMA ini pernah menjadi wadah pendidikan terbesar di serang.” harapnya.
Kedepan, Ia berencana, Organisasi Pastirta akan dibawa lebih profesional karena dibentuk sebuah wadah dan berkumpul untuk menyamakan persepsi. Sehingga ada kesatuan dari para Alumni untuk saling membantu saling suport dan tentunya memberikan manfaat bagi seluruh Alumni SMA Tirtayasa.
“Harapan saya tetaplah kompak saling menjaga dan saling membantu dan saling suport dan tetap dalam satu tujuannya bersama dan solidaritas.”tandasnya.
Dalam waktu dekat Pastirta berencana membuat program kerja seperti kegiatan sosial, budaya dan seni.
“Nanti kita akan bicarakan di rapat kerja Pastirta dalam waktu dekat ini yang pasti kegiatan ini dan kita lebih ke kegiatan sosial, budaya dan seni.” pungkasnya.
Penulis: Nurlan












