Walan.id – Di tengah tantangan perubahan iklim, kebutuhan pangan yang terus meningkat, dan tekanan alih fungsi lahan, Kabupaten Serang menghadirkan kabar menggembirakan.
Produksi padi yang kuat membuat daerah ini mencatat surplus beras sekitar 119.810 ton pada 2025.
Data Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang menunjukkan produksi padi mencapai sekitar 617.787 ton gabah atau setara 387.600 ton beras.
Sementara kebutuhan konsumsi masyarakat diperkirakan sekitar 168.708 ton beras per tahun.
Selisih produksi yang besar itu menjadi bukti bahwa sektor pertanian Kabupaten Serang masih memiliki daya tahan yang kuat sekaligus menjadi sumber optimisme bagi petani dan masyarakat.
“Artinya produksi yang ada masih jauh di atas kebutuhan masyarakat Kabupaten Serang. Bahkan surplus yang dihasilkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan daerah lain, termasuk DKI Jakarta,” kata Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo. Jumat, (3/7/2026).
Suhardjo menegaskan, ketahanan pangan harus dipandang sebagai upaya menyeluruh yang mencakup ketersediaan pangan, akses masyarakat terhadap pangan, mutu pangan, serta stabilitas pasokan sepanjang waktu.
Untuk menjaga capaian tersebut, pemerintah daerah terus mendorong peningkatan produktivitas melalui perbaikan jaringan irigasi, program pompanisasi, serta kemudahan akses pupuk bersubsidi. Petani juga didorong meningkatkan indeks pertanaman agar lahan dapat ditanami lebih intensif.
Di saat yang sama, perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) terus diperkuat bersama Dinas PUPR agar lahan sawah produktif tidak terus berkurang akibat alih fungsi.
“Ketersediaan air menjadi faktor utama. Jika air tersedia sepanjang waktu, maka petani juga dapat mengolah lahan sepanjang waktu,” jelasnya.
DKPP juga membuka ruang pengaduan bagi petani yang mengalami kesulitan mendapatkan pupuk atau menemukan harga gabah di bawah ketentuan pemerintah, sehingga persoalan di lapangan dapat segera ditindaklanjuti bersama Bulog dan pihak terkait.
Lebih jauh, pemerintah berharap semakin banyak generasi muda tertarik menjadi petani milenial. Menurut Suhardjo, masa depan ketahanan pangan sangat bergantung pada regenerasi petani dan pemanfaatan teknologi pertanian yang lebih modern.
“Pertanian bukan hanya soal menanam dan memanen. Ini adalah sektor strategis yang menentukan ketahanan pangan masyarakat,” tuturnya.
Dengan produksi yang terus meningkat, dukungan kebijakan pemerintah, serta semangat petani yang tetap terjaga, Kabupaten Serang optimistis mampu mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan utama di Banten dan terus menanam harapan bagi ketahanan pangan Indonesia. (Adv)












