Walan.id – Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Serang melakukan penandatanganan kerja sama dengan dua lembaga sekaligus dalam perbaikan dan penataan beberapa kawasan kumuh di kecamatan di Pendopo Bupati pada Senin, 12 Oktober 2026. Kedua lembaga itu adalah Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia dan Koperasi Mitra Dhuafa (Komida).
Penandatangan MoU ini langsung diteken Bupati Serang Ratu Rachmatuzakiyah, Handoko Ngadiman dari Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia, dan Sugeng Triyono dari Komida.
Bupati Serang Ratu Zakiyah berharap kerja sama ini mendatangkan maslahat bagi masyarakat Kabupaten Serang.
”Hari ini kita baru saja melaksanakan penandatanganan MOU dengan Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia yaitu Pak Handoko dan dari Komida dengan Pak Sugeng. Ini adalah kali kedua pertemuan kami, yang pertama dari Yayasan Habitat Kemanusiaan dan Komida, telah melakukan survei dan ini tindak lanjut setelah melakukan survei yang pertama,” kata Bupati kepada wartawan.
Kerja sama ini adalah bentuk kolaborasi Pemkab Serang, Yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia dan Komida.
“Insya Allah kami bertiga baik pemerintah, kemudian dari Komida maupun yayasan Habitat Kemanusiaan Indonesia akan bersama-sama menangani salah satu kawasan kumuh yang ada di Desa Domas kecamatan Pontang,” katanya.
Pelaksanaan asesmennya akan dilakukan di tahun ini. Setelah MoU ini akan ada ada tahapan berikutnya lagi.
“Harapannya tentu kita ingin kawasan kumuh yang ada di Kabupaten Serang terus berkurang. Saya mendapat informasi dari Pak Kadis perkim, itu masih ada sekitar 160an lagi kawasan kumuh. Salah satunya adalah Domas. Kami ingin menjadikan kawasan-kawasan kumuh itu tidak lagi menjadi kawasan kumuh,” tegasnya.
Kawasan kumuh itu akan ditata menjadi Kawasan yang layak huni, yang sehat, yang aman bagi para penghuninya untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
“Jadi maka kami tentu pemerintah mengajak semua pihak untuk berkolaborasi sehingga kemudian kita bisa menangani kawasan kumuh itu secara bersama-sama. Berikut juga pemerintah Provinsi Banten dan kementerian dari perumahan rakyat di pusat,” katanya.
Selama penataan Kawasan kumuh berlangsung akan disiapkan tempat relokasi bagi warga.
“Karena yang saat ini kita ketahui, terutama yang ada di Domas ini, mereka tinggal di sempadan sungai yang seharusnya tidak boleh ditinggali. Dan itu kan juga termasuk bangunan liar. Disini hadir juga BBWSC3, ini kita juga ingin mengembalikan fungsi sempadan sungai itu sesuai dengan fungsinya,” katanya.
Hal senada disampaikan Sugeng Triyono, Ketua Pengurus Koperasi Mitra Duafa (Komida). Kata dia, dalam kerja sama ini Komida berperan sebagai pihak yang membiayai.
“Sebagai nanti mengambil alih untuk pembiayaan, karena tanah ini kan perlu ada yang membiaya, dan komida mengambil peran di situ. Masyarakat yang nanti menerima manfaat akan jadi anggota komida dan kita akan bantu dari sisi pembiayaannya, sehingga mereka punya tanah yang layak dan nanti pembangunan dilakukan oleh kita dan pemerintah,” katanya.
Kata dia, Komida sebenarnya sudah lama ada di Serang dan tentu ini menjadi langkah baru karena bisa kolaborasi dengan pihak lain.
“Selama ini kita memberikan pembiayaan untuk modal usaha, tapi kali ini kita bisa masukin yang lebih besar lagi pengadaan tanah untuk masyarakat kurang mampu atau masyarakat miskin. Mencicil dengan skema khusus karena tentu mereka punya kapasitas bayar yang berbeda-beda, kita akan dalami lagi,” katanya.
Kata Sugeng, skema cicilan itu tidak memberatkan mereka, tapi dari sisi komida juga bisa mengatur cash flow.
“Kalau pengalaman sebelumnya bisa 3-4 atau bisa 5 tahun. Dengan besarannya nanti tergantung. Kita kan perlu asesmen nih. Berapa rata-ratanya, kemudian ada subsidi juga dari pemerintah sehingga nanti akan ketahuan setelah ada follow-up lebih lanjut,” katanya.
Di tempat yang sama Handoko dari Habitat Kemanusiaan Indonesia mengatakan, pihaknya mengucapkan terima kasih kepada Kabupaten Seranga yang sudah melakukan terobosan.
“Kami melihat bahwa ini sebuah contoh yang akan bisa jadi sangat baik karena penandatanganan kawasan kumuh di Indonesia menurut kami tantangan tersendiri. Karena biasanya mereka akan direlokasi ke tempat yang jauh dari tempat ekonomi mereka. Tetapi pesan dari Bu Bupati menurut saya sangat baik bahwa sesudah mereka direlokasi, bagaimana mereka bisa mempertahankan aset mereka. Kedua adalah bagaimana pemberdayaan ekonomi itu membuat hidup mereka, kesejahteraan mereka lebih baik. Dari sisi kesehatan, pendidikan anak-anak mereka, dan juga ekonomi berbasis rumah,” tegasnya.
Kata dia, pihaknya sangat berterima kasih karena Pemkab Serang bisa diajak kolaborasi. “Dengan pengalaman kami juga bersama dengan pemerintah kabupaten, dengan komida, kita bisa melakukan jadi suatu model, jadi suatu katalis, jadi contoh, jadi kasus yang bisa dibawa ke level yang bukan hanya di kabupaten tetapi level nasional dan juga internasional,” katanya.
Kata dia, Pemerintah Kabupaten Serang sangat baik, luar biasa. “Jadi kami percaya bahwa sama Komida, itu tanah itu adalah mereka akan mencicil. Karena kita percaya setiap orang, seberapa terpuruk atau miskin, tetapi mereka bisa berkontribusi. Itu yang kami percayai. Yang untuk tanah jadi mereka akan mencicil dan juga ada subsidi dari pemerintah. Yang kedua adalah rumah, itu adalah hibah dari habitat kemanusiaan Indonesia bersama dengan mitra-mitra kami untuk corporate social responsibility,” tegasnya.












