Walan.id – Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Kabupaten Serang menargetkan tanam padi sebanyak 93,907 hektar dengan target produksi 554,341 Ton, sementara dari target tanam ditahun 2026 sekitar 98800 hektar.
Hal itu dikatakan Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo, bahwa panen padi setiap tahun selalu melampui target, Meski dengan adanya El Nino berkepanjangan pihaknya mewaspadai. Bahkan Ia terus menggenjot untuk menutup kekurangan yang terdampak El Nino tersebut.
“Biasanya kita setiap tahun melampaui target, tapi dengan adanya elnino kita waspada juga, jadi kita genjot terus untuk menutupi kekurangan yang terjadi akibat elnino.”ungkapnya. (29/9/2026).
Suhardjo mengkhawatirkan hujan turun di bulan November mendatang dan terjadi kemunduran masa tanam.
“Ini juga yang dikhawatirkan kemunduran masa tanam yang harusnya tanam September karena musim hujan datang November akhirnya mundur di oktober, otomatis kalau ditanamnya Oktober panennya di Januari 2027, Jadi tidak masuk panen yang di tahun 2026.”ujarnya.
Ia menjelaskan, hal itu yang menjadi perhatian, maka pihaknya mengimbau para petani harus menanam di bulan September tahun ini, supaya panen di akhir Desember sehingga masuk produksinya di tahun 2026.
Selain itu, Suhardjo mengatakan, dengan Pertanian Modern Advanced Agriculture System (PMAAS) ini suatu terobosan dari menteri pertanian yang menginstruksikan supaya menggunakan PMAAS.
“Ada perbedaan yang mencolok tidak melalui semai tapi dengan sistem tebar benih langsung (tabela) dengan menggunakan alat.”kata dia.
Kemudian, kata dia, dengan system PMAAS tersebut penggunaan pupuk meningkat, biasa urea itu hanya 100 kilo per hektar ini naik jadi 200 per hektar.
Selain pupuk urea, pemakaian NPK nya juga hanya 150 itu naik jadi 300 kilo per hektar. Sehingga ada penambahan inklut.
“Tapi nanti hasilnya diharapkan meningkat sampai dengan 100 persen yang biasa 5-6 ton per hektar ini meningkat sampai dengan 10-12 ton per hektar.” ujarnya.
Ia berharap, dengan adanya PMAAS tersebut bisa menutup beberapa wilayah yang terdampak kekeringan.
“Total dari kekeringan itu sekitar ada 1760 hektar yang sudah terdampak meskipun sebagain sudah panen tapi itu jelas pengurangan produksinya mudah mudahan ketutup dengan PMAAS ini. Dari 1776 sementara 360 terdampak puso.”katanya.
Sementara, pihaknya bekerjasama dengan Provinsi Banten untuk yang terdampak elnino diberikan bantuan bibit.
“Nah ini kita sudah bekerjasama dengan provinsi baru 48 hektar yang sudah diberikan penggantian bibit karena kesediaan bibit adanya di provinsi.”tandasnya.
Kemudian, kata dia, sisanya akan mengajukan kembali untuk penggantian yang terdampak puso supaya bisa menanam kembali.
“Jadi sisanya kita akan mengajukan untuk penggantian yang terkena puso untuk bisa menanam kembali untuk mengejar target produksi yang sudah ditanam itu.” pungkasnya.












