Walan.id – Perajin sandal rumahan di Desa Panenjoan, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten mampu memproduksi lima sampai enam sandal perhari. Dengan omset penjualan Rp. 700 – Rp. 1 juta.
Hal itu dikatakan, Perajin Herman Mulyono bahwa ia menekuni pembuatan sandal tersebut selama kurang lebih 13 tahun, Meski saat ini terkendala dengan merk atau brand.
“Kurang lebih saya menekuni ini sekitar tiga belas tahun dan saat ini lagi fokus pembuatan sandal menjelang hari raya.” ungkapnya kepada Walan.id, Sabtu, 14 Februari 2026.
Baca juga:
Dekranas Expo 2025, Dekranasda Kabupaten Serang Pamerkan Barbagai Produk UMKM Unggulan
Ia menjelaskan, untuk pembuatan sandal sendiri dalam sehari bisa mencapai lima pasang sampai enam pasang sandal.
Menurutnya, harganya sendiri bervariasi, mulai dari Rp. 150 ribu sampai Rp. 200 ribu, tergantung bahan dan tingkat kesulitan. Meski Demikian, kata dia, secara pemasaran pun itu menjadi kendala, karena belum memiliki merk.
“Kalau produk saya secara pemasaran masih perorangan yang kenal kenal aja, karena belum ada brand.”jelasnya.
Baca juga:
Perajin Sandal dan Sepatu di Carenang Kesulitan Modal hingga Berimbas pada Kelancaran Produktivitas
Herman menuturkan, dari modal membeli kulit sekitar 28 lembar kulit/feet, ia mampu membuat 30 pasang sandal. Dengan keuntungan mencapai Rp. 700 sampai Rp. 1 juta.
“Jadi pemasarannya kelililing aja ke teman sambil nawarin.
Secara pemasaran, kata Herman, Ia belum berani memasarkan produknya melalui media sosial, karena menurutnya produknya tersebut belum memiliki brand atau merk.
“Saya belum berani penjualan di medsos karena belum ada brand atau merk.” kata dia.
Baca juga:
Kemenkum Banten dan Diskoumperindag Kabupaten Serang Dorong UMKM Naik Kelas
Ia berencana kedepan, ketika mempunyai modal akan membeli mesin embos untuk merek atau brandnya.
“Kalau sudah ada merk, secara penjualan InsyaAllah saya siap terjun ke pasaran ataupun ke toko toko untuk menawarkan produknya.”ujarnya.
Sebelumnya, kata dia, pernah mencoba dipasarkan ke toko dengan nama brandnya, Namun terkendala dengan biaya.
“Kemarin kan sudah ada merk cuma gak ke uji dengan biaya, untuk ngobras aja biayanya Rp. 2500 belom nyablon paling mahal Rp. 1500 dalam satu pasang, Sebelum punya mesin obras untuk merk, jadi jualannya polosan aja.” tandasnya.
Editor: Nurlan












