Walan.id – Hampir sebulan warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kecamatan Binuang, Kabupaten Serang, Banten, mengungsi akibat banjir luapan sungai Cidurian.
Kini korban banjir terpaksa mengungsi ditenda pengungsian karena rumah mereka masih terendam banjir. Sebagian lainya ngontrak dan ke rumah keluarga nya masing-masing.
Warga juga meminta kepada pemerintah terkait untuk peninggian tanggul di bantaran sungai Cidurian, untuk menghalau aliran sungai Cidurian saat meluap supaya tidak masuk ke permukiman warga.
“Ini kan tanggulnya sudah turun, makanya kita sudah sampaikan kepada instansi daerah, pemerintah desa, kecamatan, kemudian pihak PU dan BBWSC semua sudah kita sampaikan terkait masalah tanggul.”ungkapnya.kepada walan.id, Rabu, (4/4).
Baca juga:
2.105 Hektar Lahan Padi di Kabupaten Serang Terdampak Banjir, DKPP Bakal Beri Bantuan Benih Padi
Menurutnya, Kampung Kuranji Desa Cakung Kecamatan Binuang sering terjadi banjir dan hampir setiap tahun. Karena kampung tersebut terhimpit oleh dua sungai yaitu sungai cidurian dan kalimati.
“Hampir setiap tahun jadi langganan banjir, karena kampung ini terhimpit oleh dua sungai, tapi banjir tahun ini yang terparah.”tandasnya.
Ia menjelaskan, bahwa warga saat ini masih bertahan di posko pengungsian dan untuk warga yang lainya mengungsi ke keluarganya.
“Kalau ngungsi itu tanggal 8-9 Januari karena air itu masuk mulai tanggal 5 Januari 2026.”jelasnya.
Baca juga:
Disdukcapil Kabupaten Serang Buka Layanan Administrasi Kependudukan Bagi Warga Terdampak Banjir
Menurutnya, ketinggian air pada saat itu sekitar satu meter bahkan dua meter lebih. Hingga saat ini hampir satu bulan warga masih mengungsi.
Untuk logistik makanan sendiri, kata Royadi, semua di cover dari dapur umum yang ada di Carenang.
“Terkait logistiknya bagus sih baik dari dinsos maupun kemensos.” kata dia.
Ia menuturkan, saat ini ketinggian air sudah berangsur surut, Namun genangan air didalam rumah sekitar setengah meter.
“Untuk warga yang kembali kerumah sudah ada untuk bersih bersih, kalau banjir kita langganan tiap tahun.” tuturnya.
Selain itu, Ia juga mengaku kebutuhan air bersih tidak terpasok, bahkan warga membeli dari depot air isi ulang.
“Dari awal air bersih gak ada yang masok gitu, makanya untuk minum aja kita beli isi ulang gitu.” pungkasnya.
Editor: Nurlan












