Walan.id – hampir sebulan warga Kampung Kuranji, Desa Cakung, Kabupaten Serang, Banten, mengungsi akibat banjir luapan sungai Cidurian.
Kini korban banjir terpaksa mengungsi ditenda pengungsian karena rumah mereka masih terendam banjir. Sebagian lainya ngontrak dan ke rumah keluarga nya masing-masing.
Namun, dalam kondisi tersebut warga mengaku kekurangan pasokan air bersih, bahkan untuk mencuci dan yang lainya menggunakan air yang tergenang dihalaman rumah.
Warga setempat, Royadi mengaku kebutuhan air bersih tidak terpasok, bahkan warga membeli dari depot air isi ulang.
“Dari awal air bersih gak ada yang masok gitu, makanya untuk minum aja kita beli isi ulang gitu.” ungkapnya kepada walan.id, dilokasi pengungsian, 4 Februari 2026.
Baca juga:
Tinjau Banjir di Carenang, Bupati Ratu Zakiyah Pastikan Tidak Ada Warga Kekurangan Makanan
Ia menjelaskan, bahwa warga saat ini masih bertahan di posko pengungsian dan yang lainya mengungsi ke keluarganya.
“Kalau ngungsi itu tanggal 8-9 Januari karena air itu masuk mulai tanggal 5 Januari 2026.”jelasnya.
Menurutnya, ketinggian air pada saat itu sekitar satu meter bahkan dua meter lebih. Hingga saat ini hampir satu bulan warga masih mengungsi.
Untuk logistik makanan sendiri, kata Royadi, semua di cover dapur umum yang ada di Carenang.
“Terkait logistiknya bagus sih baik dari dinsos maupun kemensos.” kata dia.
Baca juga:
Banjir di Desa Mekarsari Carenang Mulai Surut, Warga Masih Bertahan Dipengungsian
Ia menuturkan, saat ini ketinggian air sudah berangsur surut, Namun genangan air didalam rumah sekitar setengah meter.
“Untuk warga yang kembali kerumah sudah ada untuk bersih bersih, kalau banjir kita langganan tiap tahun.” tuturnya.
Ia berharap kepada pemerintah kabupaten serang meminta untuk dibuatkan tanggul untuk menghalau air cidurian saat meluap supaya tidak masuk ke permukiman warga.
“Ini kan tanggulnya sudah turun, makanya kita sudah sampaikan kepada instansi daerah, pemerintah desa, kecamatan, kemudian pihak PU dan BBWSC semua sudah kita sampaikan terkait masalah tanggul.” harapnya.
Editor: Nurlan












