Walan.id – Bastariyah (52), warga Kampung Selawe, Desa Mekarsari, Kecamatan Carenang, Kabupaten Serang, Banten, mengaku mengalami kerugian akibat banjir yang merendam lahan pertaniannya. Ia menyebutkan, di antara sejumlah wilayah terdampak banjir, sawah miliknya menjadi yang paling parah terendam.
Sedikitnya lima petak sawah milik Bastariyah terendam banjir. Padahal, padi tersebut dijadwalkan akan dipanen pada bulan Ruwah atau menjelang bulan suci Ramadan. Dalam satu kali panen, Bastariyah biasanya mampu menghasilkan padi lebih dari satu ton. Untuk modal tanam, ia mengaku telah mengeluarkan biaya sekitar Rp5 juta.
“Pokoknya banyak tapi gak tahu berapa hektar karena sawah dibelakang itu milik saya yang saat ini banyak sampahnya akibat banjir.”ujar Bastariyah kepada walan.id, Sabtu, (31/1).
Baca juga:
Tinjau Banjir di Carenang, Bupati Ratu Zakiyah Pastikan Tidak Ada Warga Kekurangan Makanan
“Kadang kalo panen itu dapat sekitar satu ton setengah, kalo modal sekitar empat juta sampai lima juta.” imbuhnya.
Meski mengalami kerugian cukup besar, Bastariyah mengaku tidak terlalu memikirkan kerugian materi. Ia justru berharap adanya perhatian dari Pemerintah terkait untuk segera membersihkan tumpukan sampah sisa banjir yang hingga kini masih menumpuk di belakang rumah dan area persawahannya.
“Sampah bekas banjir itu kan pada nyangkut disini sementara sampah darimana mana kesini saya mohon kepada damkar ataupun pemerintah terkait untuk membersihkannya.” harapnya.
Baca juga:
124 Hektar Lahan Sawah di Desa Ragas Berpotensi Gagal Tanam, Petani Minta Dinas Terkait Perbaiki
Menurutnya, sampah bekas banjir tersebut menghambat aktivitas pertanian dan berpotensi menimbulkan dampak lingkungan serta gangguan kesehatan bagi warga sekitar.
Ia juga berharap pemerintah daerah segera ikut turun tangan agar kondisi lingkungan pascabanjir dapat kembali normal dan para petani bisa kembali mengolah lahan pertanian mereka.
“Saya sih berharap sampah sampah itu dibersihin kalo gak dibersihin siapa yang bersihin karena kita anak perempuan semua.”harapnya.
Editor: Nurlan













